Klasifikasi Bunyi Bahasa Bali

Authors

  • Ni Putu Ari Widiantari Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali
  • I Gusti Ngurah Mayun Susandhika Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali

DOI:

https://doi.org/10.31940/senarilip.v7i1.8-20

Keywords:

Bahasa Bali, Diftong, Fonetik, Fonologi, Konsonan, Pelestarian Bahasa, Vokal

Abstract

Bahasa merupakan sistem tanda bunyi yang kompleks, tersusun atas aturan tertentu yang disepakati oleh penuturnya, serta berfungsi tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol identitas dan warisan budaya. Artikel ini menelaah fonetik dan fonologi bahasa Bali sebagai salah satu bahasa daerah di Indonesia yang hingga kini masih dipertahankan di tengah arus globalisasi. Penelitian difokuskan pada klasifikasi bunyi vokal, diftong, dan konsonan bahasa Bali serta keterkaitannya dengan aspek sosial-budaya masyarakat penuturnya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan observasi alami terhadap tuturan keluarga dan masyarakat Bali, disertai refleksi diri peneliti sebagai bagian dari pengalaman langsung dalam penggunaan bahasa. Analisis fonetik dilakukan untuk memahami aspek fisik produksi bunyi, sementara analisis fonologi digunakan untuk melihat fungsi bunyi dalam membedakan makna dan keteraturannya dalam sistem bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Bali memiliki inventaris vokal yang cukup kaya, yaitu terdiri dari 12 vokal dengan distribusi yang fleksibel pada posisi awal, tengah, dan akhir kata. Keberadaan vokal [e] dan [ɛ], misalnya, berperan penting dalam membedakan makna leksikal. Selain itu, ditemukan pula diftong yang terbagi menjadi tiga diftong naik dan delapan diftong turun. Diftong ini tidak hanya memperkaya struktur suku kata, tetapi juga memberikan variasi prosodi dalam tuturan seharihari. Sistem konsonan bahasa Bali berjumlah sekitar 20 fonem, dengan sebaran di hampir semua titik artikulasi, seperti bilabial, alveolar, palatal, velar, hingga laringal. Konsonan seperti [ɲ] dan [ŋ] menandai ciri khas Austronesia, sedangkan bunyi seperti [f], [v], [z], dan [ʃ] relatif jarang muncul, menunjukkan keterbatasan serapan dalam kosakata dasar. Distribusi vokal, diftong, dan konsonan tersebut menunjukkan keteraturan fonologis yang kuat sekaligus berfungsi sebagai pembeda makna dalam bahasa Bali. Lebih jauh, penelitian ini menegaskan bahwa sistem bunyi bahasa Bali tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya masyarakat penuturnya. Kehadiran tingkatan bahasa (alus, madya, kasar) menunjukkan bahwa pilihan bunyi dalam kosakata tidak hanya bersifat linguistik, melainkan juga sarat dengan makna sosial, etika, serta hierarki dalam komunikasi. Fenomena ini memperlihatkan bahwa bahasa Bali bukan hanya sistem fonologis yang kompleks, tetapi juga instrumen budaya yang menjaga nilai sopan santun dan identitas kolektif masyarakat Bali. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kekayaan fonetik dan fonologis bahasa Bali menjadi bukti vitalitasnya sebagai bahasa daerah yang masih hidup dan berkembang. Keberagaman bunyi tidak hanya memperkaya sistem linguistik, tetapi juga memperkokoh kedudukan bahasa Bali sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. Di tengah tantangan globalisasi, penggunaan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari menjadi strategi utama dalam menjaga eksistensinya. Oleh karena itu, upaya dokumentasi, penelitian, serta kebijakan pendidikan dan budaya yang mendukung pelestarian bahasa Bali sangat diperlukan agar bahasa ini tetap bertahan dan diwariskan kepada generasi berikutnya

Published

2025-12-24

How to Cite

Ni Putu Ari Widiantari, & I Gusti Ngurah Mayun Susandhika. (2025). Klasifikasi Bunyi Bahasa Bali. Prosiding Seminar Nasional Riset Bahasa Dan Pengajaran Bahasa, 7(1), 8–20. https://doi.org/10.31940/senarilip.v7i1.8-20